PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah memperluas lini bisnisnya dengan memaksimalkan potensi energi panas bumi di luar sektor kelistrikan konvensional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pengembangan pemanfaatan langsung (direct use) untuk mendukung sektor industri dan pertanian, serta produksi hidrogen hijau (green hydrogen) sebagai alternatif energi bersih masa depan.
Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa panas bumi memiliki fleksibilitas tinggi yang belum tergarap sepenuhnya. Dalam forum The 5th ITB International Geothermal Workshop 2026, ia menegaskan fokus perusahaan saat ini adalah mempercepat inovasi teknologi dan memperluas pemanfaatan panas bumi non-listrik melalui kolaborasi lintas sektor.
Selain diversifikasi energi, PGEO juga mengadopsi transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi kerja. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengembangan teknologi pengujian sumur guna menghasilkan data operasional yang lebih presisi, yang diharapkan mampu mempercepat proses pengambilan keputusan di lapangan.
Indonesia saat ini menguasai potensi panas bumi sebesar 24 gigawatt (GW), menempatkan tanah air di peringkat kedua pemilik cadangan terbesar di dunia. Memanfaatkan keunggulan geografis ini, PGEO menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik panas bumi yang dikelola secara mandiri hingga mencapai 1 GW pada tahun 2028, dan ditargetkan terus melonjak hingga 1,8 GW pada tahun 2034.