Dalam forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang digelar Senin (29/6/2026), Presiden Republik Indonesia menyoroti pentingnya peran strategis kalangan akademisi dan guru besar sebagai lokomotif utama kemajuan bangsa. Presiden menegaskan bahwa inovasi yang lahir dari riset ilmuwan tanah air merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan ekonomi, termasuk kebutuhan mendesak untuk mencapai kemandirian produksi nasional.
Presiden mengungkapkan kekecewaan atas ketergantungan Indonesia pada produk impor di berbagai sektor strategis, mulai dari benih pertanian hingga otomotif. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia mengoptimalkan kecerdasan sumber daya manusia terbaiknya untuk memproduksi teknologi sendiri. Beliau memberikan contoh upaya pemerintah dalam penggunaan mobil buatan dalam negeri sebagai langkah awal untuk memicu keberanian berinovasi, meskipun menghadapi tantangan teknis di masa awal pengembangannya.
Mengambil pelajaran dari sejarah, Presiden mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan elitenya untuk bekerja sama. Beliau mengamati bahwa negara-negara yang terpuruk akibat konflik internal umumnya gagal melakukan konsolidasi antarkelompok. Oleh karena itu, Presiden mengajak seluruh civitas akademika untuk mengesampingkan perbedaan latar belakang demi tujuan besar, yakni menciptakan kedaulatan ekonomi bagi rakyat kecil.
Pada bagian akhir pidatonya, Presiden menegaskan komitmennya untuk menjalin komunikasi yang lebih mendalam dengan para guru besar terkait data dan fakta empiris yang ia miliki mengenai kondisi bangsa. Beliau berharap para ilmuwan dapat mengkaji data tersebut secara saintifik untuk merumuskan solusi konkret bagi masa depan ekonomi Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap masukan yang berbasis riset dan objektif.