Aktivitas eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi yang dijalankan oleh PT Petroenergy Utama Wiriagar (PUW) di Wilayah Kerja Bintuni Basin, Distrik Weriagar, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menghadapi tantangan besar. Hingga saat ini, volume produksi harian yang dihasilkan dinilai belum mampu menutup biaya operasional perusahaan.

Berdasarkan data operasional terbaru, perusahaan mitra Kerja Sama Operasi (KSO) PT Pertamina EP Papua Field ini hanya mampu memproduksi minyak mentah sekitar 20 hingga 30 barel per hari (BOPD). Jumlah tersebut sangat jauh dari ambang batas keekonomian proyek yang idealnya berada di kisaran 200 hingga 300 BOPD agar kegiatan operasional dapat berjalan normal.

Penanggungjawab Lapangan PT PUW, Robinson Nederupun, mengakui bahwa dari sisi kalkulasi bisnis, kondisi saat ini menempatkan perusahaan pada posisi merugi. Kendati demikian, PT PUW berkomitmen untuk tetap bertahan di Weriagar sembari menunggu arahan strategis dari manajemen pusat mengenai rencana pengembangan sumur baru di masa mendatang.

Sejak mengantongi kontrak KSO selama 20 tahun pada 2015 dengan area kerja seluas 5.148 kilometer persegi, operasional PT PUW kerap mengalami pasang surut. Pada tahun 2018, kegiatan lapangan sempat terhenti total akibat aksi pemalangan oleh warga, sebelum akhirnya disepakati untuk beroperasi kembali pada Juli 2019 setelah melalui mediasi bersama Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, SKK Migas, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat setempat.

Upaya untuk mendongkrak produksi sebenarnya telah dilakukan pada tahun 2023 lewat pengeboran sumur baru WPL-3. Namun, sumur tersebut terpaksa ditutup kembali lantaran hasil tajak menunjukkan kandungan air 100 persen. Saat ini, perusahaan hanya mengandalkan produksi dari sumur-sumur tua (W-3, W-4, dan W-5), yang hasilnya kemudian dikirim ke Kasim Marine Terminal (KMT) di Sorong untuk diolah di kilang Pertamina RU VII Kasim.