Lereng Gunung Merbabu di Dusun Warangan, Magelang, kembali bergetar oleh irama tradisi saat Komunitas Lima Gunung membuka perayaan perak Festival Lima Gunung XXV pada 10 Juli 2026. Diawali dengan ritus penanaman pohon sebagai simbol pelestarian alam, festival ini menegaskan eksistensinya sebagai ruang ekspresi bagi seniman petani yang konsisten merawat akar budaya selama seperempat abad.
Tema "Makin Goblok Bareng" yang diusung tahun ini menarik perhatian publik. Meski terdengar provokatif, narasi ini merupakan bentuk gugatan spiritual terhadap ambisi manusia di era informasi yang serbacepat. Menurut para pegiat seni setempat, istilah tersebut adalah refleksi atas keadaan dunia saat ini, sekaligus ajakan untuk menanggalkan kesombongan intelektual demi mencapai keharmonisan antarsesama dan semesta.
Kreativitas warga dusun tampak nyata melalui beragam instalasi seni yang memanfaatkan material alam, seperti jerami, bambu, dan bonggol jagung. Kehadiran instalasi tokoh punakawan raksasa di area panggung menjadi simbol pesan filosofis komunitas: bahwa di balik humor dan kesederhanaan, tersimpan kedalaman kontemplasi mengenai karut-marut peradaban modern.
Festival yang berlangsung hingga 12 Juli 2026 ini berhasil menghimpun 85 grup kesenian dengan lebih dari 1.200 seniman dari berbagai penjuru tanah air. Melalui serangkaian agenda mulai dari pementasan tari, teater, hingga sarasehan budaya, Festival Lima Gunung XXV bukan sekadar pesta kesenian, melainkan oase yang mengingatkan manusia untuk kembali membumi dan menghargai alam di tengah kepungan ego zaman.