Penantian panjang selama tujuh dekade yang dijalani Zhao Cuifen (93) akhirnya menemui titik terang. Warga Kota Liuyang, Provinsi Hunan, Tiongkok ini, baru saja dipertemukan kembali dengan sosok mendiang suaminya, Zhang Zhixin, melalui sebuah potret yang dihasilkan oleh teknologi restorasi digital canggih.
Keberhasilan ini merupakan buah kerja keras tim sukarelawan dari Universitas Teknologi Industri Nanjing. Mengingat Zhang Zhixin tidak meninggalkan satu pun foto semasa hidupnya, tim ahli melakukan rekonstruksi wajah dengan menganalisis ciri fisik anggota keluarga yang masih ada, serta menyandingkannya dengan catatan sejarah terkait pertempuran yang merenggut nyawa suaminya tersebut.
Proyek kemanusiaan ini digagas melalui kolaborasi antara pihak universitas dan pemerintah Provinsi Hunan, yang bertujuan memulihkan memori visual para prajurit yang gugur dalam Pertempuran Pulau Dongshan. Pada 24 Juni lalu, empat potret hasil rekonstruksi diserahkan langsung kepada keluarga prajurit, termasuk kepada keluarga besar mendiang Zhang Zhixin.
Dalam momen yang mengharukan, Zhao Cuifen tak kuasa menahan tangis saat memeluk bingkai foto suaminya. Bagi Cuifen, potret tersebut menjadi jembatan emosional yang menyambungkan ingatannya selama lebih dari 70 tahun. Zhang Zhixin diketahui gugur pada tahun 1953 di usia 20 tahun saat menjalankan tugas militer, tanpa meninggalkan keturunan maupun dokumentasi diri.
Kisah ini menjadi bukti bagaimana inovasi teknologi mampu memberikan kenyamanan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan. Restorasi digital ini tidak hanya menjadi sekadar proyek teknis, melainkan bentuk penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berkorban demi negara namun namanya sempat terkubur oleh waktu.