Pemerintah Provinsi Banten kini mengalihkan fokus utama mitigasi bencana seiring dengan peningkatan status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda ke Level IV atau status Awas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten menegaskan bahwa ancaman utama yang perlu diwaspadai masyarakat pesisir bukanlah paparan abu vulkanik, melainkan potensi gelombang tsunami akibat aktivitas gunung berapi tersebut.
Kepala BPBD Banten, Lutfi Mujahidin, menjelaskan bahwa semburan material vulkanik dari puncak gunung diperkirakan tidak akan menjangkau pemukiman warga di daratan. Fokus pengawasan otoritas setempat kini tertuju pada pergerakan bawah laut dan guncangan tektonik yang berisiko memicu gelombang tsunami. Menurutnya, keputusan untuk melakukan evakuasi massal akan sangat bergantung pada hasil pemantauan aktivitas vulkanik yang berpotensi memicu keruntuhan material ke laut.
Berdasarkan skenario mitigasi kebencanaan, masyarakat di sepanjang pesisir Selat Sunda diperkirakan hanya memiliki waktu evakuasi sekitar 40 menit sejak tanda-tanda awal tsunami terdeteksi. Durasi yang singkat ini menuntut kesiapsiagaan masyarakat untuk segera bergerak menuju dataran tinggi atau titik kumpul yang telah ditetapkan tanpa harus menunggu instruksi tambahan jika ditemukan fenomena alam yang tidak lazim, seperti air laut yang tiba-tiba surut.
Untuk meminimalisir risiko, BPBD Banten telah memperkuat koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) demi memastikan alur informasi berjalan cepat dan akurat. Selain itu, pihak berwenang telah memberikan pelatihan khusus bagi Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) agar mampu memandu evakuasi mandiri baik bagi wisatawan maupun penduduk lokal.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menghindari penyebaran informasi yang tidak valid atau spekulatif yang dapat memicu kepanikan. Pemerintah daerah menekankan agar warga lebih fokus dalam memahami jalur evakuasi serta rambu-rambu kebencanaan yang telah terpasang di sepanjang zona rawan tsunami sebagai langkah antisipasi terpenting dalam menghadapi situasi darurat.