Peningkatan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga telah memicu gelombang informasi yang simpang siur di media sosial. Menyikapi situasi tersebut, anggota DPRD Provinsi Lampung, Imelda, menekankan pentingnya masyarakat untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada kanal informasi resmi pemerintah guna menghindari kepanikan yang tidak perlu.

Imelda menyoroti maraknya penyebaran video lama yang kembali diunggah dengan narasi seolah-olah menunjukkan erupsi terkini. Praktik disinformasi ini dinilai tidak hanya kontraproduktif bagi upaya mitigasi bencana, tetapi juga membawa dampak destruktif bagi perekonomian lokal, khususnya industri pariwisata di wilayah pesisir Lampung.

"Penyebaran hoaks ini sangat merugikan pelaku usaha, mulai dari pengelola hotel, restoran, hingga nelayan yang bergantung pada sektor wisata. Wisatawan seringkali langsung membatalkan kunjungan akibat informasi yang tidak terverifikasi tersebut," tegas Imelda, Selasa (7/7/2026).

Legislator dari Komisi II DPRD Lampung ini menegaskan bahwa status Siaga tidak berarti seluruh kawasan wisata di Lampung berbahaya untuk dikunjungi. Ia mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap berpedoman pada aturan radius aman lima kilometer dari kawah aktif yang ditetapkan oleh PVMBG serta instansi terkait lainnya.

Lebih lanjut, Imelda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih selektif dalam mengonsumsi dan membagikan konten digital. Kolaborasi antara pemerintah, media massa, dan masyarakat sangat krusial dalam menjaga kondusivitas daerah serta melindungi citra pariwisata Lampung dari dampak buruk disinformasi di tengah aktivitas vulkanik yang sedang meningkat.