Menghadapi gempuran produsen kendaraan listrik (BEV) asal China yang semakin agresif di pasar Asia Tenggara, Honda Automobile (Thailand) mengambil langkah strategis dengan memposisikan teknologi Hybrid Electric Vehicle (HEV) sebagai ujung tombak penjualan mereka. Perusahaan menargetkan bahwa pada tahun 2029, sekitar 90 persen dari total portofolio penjualan Honda di Thailand akan didominasi oleh lini produk berteknologi hibrida.
Kunci dari strategi ini terletak pada teknologi e:HEV milik Honda yang memadukan keunggulan mesin bensin dengan motor listrik tanpa mengharuskan pengguna melakukan pengisian daya eksternal. Menurut Presiden dan CEO Honda Automobile (Thailand), Koji Iwanami, fleksibilitas teknologi ini menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang menginginkan efisiensi bahan bakar tinggi namun belum merasa percaya diri untuk beralih sepenuhnya ke ekosistem kendaraan listrik murni.
Untuk memperkuat posisi tawar di pasar, Honda berkomitmen memangkas biaya produksi sistem hybrid generasi terbaru hingga lebih dari 30 persen. Langkah efisiensi ini diharapkan dapat menekan harga jual kendaraan menjadi lebih kompetitif, sekaligus merespons persaingan harga yang ketat dengan pabrikan asal Negeri Tirai Bambu. Selain itu, Honda mendorong pemerintah Thailand untuk menerapkan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang lebih ketat bagi produsen BEV asing, guna mendukung ekosistem industri komponen lokal.
Kendati tengah memfokuskan pengembangan pada kendaraan segmen B di pusat manufaktur mereka di Prachinburi, Honda menegaskan bahwa mereka tidak akan meninggalkan riset kendaraan listrik. Perusahaan tetap mengalokasikan investasi jangka panjang untuk teknologi BEV sebagai bagian dari transisi energi global yang lebih luas.
Berdasarkan proyeksi perusahaan, pasar otomotif Thailand pada tahun 2029 akan didominasi oleh kendaraan hybrid dengan pangsa pasar mencapai 52 persen. Angka tersebut jauh melampaui estimasi penguasaan kendaraan listrik murni yang diprediksi berada di angka 33 persen, sementara sisanya akan diisi oleh mobil konvensional (ICE) dan teknologi alternatif lainnya.