Tren kewirausahaan global kini semakin diminati oleh kalangan akademisi muda asal Asia Tenggara. Selepas merampungkan pendidikan magister di Guizhou Normal University, seorang warga negara Vietnam bernama Tran Le Huong Giang langsung mengambil langkah strategis dengan mendirikan perusahaan perdagangan internasional di kawasan Guian New Area, Guiyang, Tiongkok.

Perusahaan baru ini fokus pada sektor perdagangan lintas batas, layanan penerjemahan, serta pelatihan bahasa Mandarin. Giang mengungkapkan bahwa dirinya melihat peluang besar dari meningkatnya permintaan tenaga kerja dwibahasa seiring eratnya hubungan dagang Tiongkok-Vietnam. Tak lama lagi, perusahaannya bahkan bersiap memfasilitasi kunjungan delegasi bisnis asal Vietnam yang ingin menjajaki sektor kecerdasan buatan (AI) dan baterai litium di wilayah tersebut.

Langkah serupa juga diambil oleh Cai Hong, alumnus asal Laos dari Guizhou Minzu University. Cai mendirikan usaha perdagangan komoditas dan pertukaran budaya yang memanfaatkan konektivitas strategis Jalur Kereta Api Tiongkok-Laos. Bisnisnya berfokus pada ekspor produk khas Guizhou seperti teh dan minuman keras Moutai, serta impor produk pertanian seperti durian dan kopi dari Laos.

Fenomena ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah daerah melalui pembentukan China-Guiyang Guian International Talent Entrepreneurship Park. Inkubator bisnis ini telah menampung sedikitnya 15 perusahaan rintisan milik mahasiswa ASEAN dengan menyediakan fasilitas ruang kantor gratis serta kemudahan dalam pengurusan izin usaha.

Dalam forum China-ASEAN Education Cooperation Week 2026, integrasi antara dunia pendidikan dan sektor industri dinilai menjadi kunci utama. Pihak Kementerian Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kamboja menegaskan bahwa sinergi ini penting guna membekali generasi muda dengan keterampilan praktis yang relevan untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan regional.