Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan dinamika realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 yang tercatat tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Meski Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) berhasil mempertahankan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK, kondisi ekonomi global menjadi faktor krusial yang menekan kinerja keuangan pemerintah sepanjang tahun tersebut.

Menurut Purbaya, fragmentasi perdagangan dunia dan eskalasi ketegangan geopolitik telah mengganggu rantai pasokan global serta memicu perlambatan investasi. Tekanan ini berimbas langsung pada pendapatan negara yang hanya terealisasi sebesar Rp2.765,13 triliun atau 92,01 persen dari target APBN. Penerimaan perpajakan menjadi sektor yang paling terdampak, dengan realisasi hanya mencapai 89,05 persen akibat penyesuaian kebijakan pajak dan upaya pemerintah dalam menjaga likuiditas dunia usaha melalui percepatan restitusi.

Di sisi lain, PNBP menunjukkan kinerja yang impresif dengan melampaui target hingga 105,43 persen. Namun, ketidakcapaian target pendapatan secara keseluruhan berpengaruh pada serapan belanja negara yang terealisasi sebesar 94,87 persen. Akibatnya, defisit APBN melebar ke angka 2,81 persen terhadap PDB, lebih tinggi dari target awal yang ditetapkan sebesar 2,53 persen.

Pemerintah menegaskan bahwa posisi fiskal nasional tetap berada dalam kondisi solid dengan dukungan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp438,26 triliun. Sebagai langkah mitigasi ke depan, pemerintah berkomitmen mempercepat perbaikan tata kelola keuangan, termasuk melalui pemanfaatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) serta penyempurnaan skema subsidi dan kompensasi BBM.