Prospek sektor teknologi di pasar modal kini berada di bawah bayang-bayang tekanan makroekonomi global. Berbagai faktor eksternal, mulai dari lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah hingga kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, menjadi tantangan signifikan bagi perusahaan yang sangat bergantung pada impor perangkat keras.

Analis dari Sucor Sekuritas, Dicky Susilo Adi, dalam riset terbarunya memaparkan bahwa fenomena 'booming' kecerdasan buatan (AI) turut memicu kenaikan harga komponen chip memori secara ekstrem. Proyeksi dari Gartner menunjukkan harga DRAM dan NAND berpotensi melonjak drastis hingga tahun 2027, yang secara langsung menekan biaya pengadaan bagi emiten teknologi lokal seperti PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI).

Kondisi ekonomi yang memicu kenaikan biaya modal serta pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS memaksa para pelaku industri untuk melakukan penyesuaian margin. Akibatnya, Sucor Sekuritas merevisi turun estimasi laba untuk kedua emiten tersebut, dengan pemangkasan sebesar 6-7 persen bagi MTDL dan 10-12 persen bagi MSTI untuk periode 2026-2027.

Meski menghadapi tekanan, Sucor Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi 'overweight' untuk sektor teknologi dan memberikan rating beli pada kedua saham tersebut. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa koreksi harga pasar saat ini sudah mencerminkan risiko yang ada, didukung oleh neraca keuangan yang kuat serta permintaan jangka panjang terhadap transformasi digital dan infrastruktur AI.

Di antara keduanya, MTDL dianggap sebagai pilihan yang lebih defensif berkat diversifikasi bisnis yang luas. Sementara itu, MSTI dipandang memiliki potensi keuntungan yang menarik dari sisi dividen, meskipun investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi seiring ketergantungan perusahaan pada siklus proyek infrastruktur teknologi.