Upaya untuk mengembalikan identitas para prajurit yang gugur dalam perang kini mendapatkan dorongan signifikan melalui adopsi teknologi pengurutan gen generasi berikutnya (Next-Generation Sequencing/NGS). Inovasi ini menjadi titik balik penting dalam menjawab tantangan identifikasi sampel biologis yang telah terkubur selama puluhan tahun di tengah kondisi iklim ekstrem, yang selama ini menyebabkan degradasi DNA yang sangat parah.
Dr. Tran Trung Thanh, Direktur Pusat Pengujian DNA di Akademi Sains dan Teknologi Vietnam, mengungkapkan bahwa kondisi sisa-sisa jenazah di Vietnam merupakan salah satu yang paling menantang di dunia. Metode konvensional berbasis genom mitokondria yang digunakan selama 15 tahun terakhir hanya mampu memberikan tingkat akurasi sekitar 20 persen. Namun, melalui pemanfaatan genom nuklir yang lebih kompleks, teknologi NGS kini mampu menganalisis fragmen DNA yang sangat pendek dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.
Sistem ini menawarkan solusi komprehensif mulai dari teknik ekstraksi mutakhir hingga otomatisasi perangkat lunak manajemen data. Keberhasilan metode ini terlihat dari peningkatan drastis tingkat ekstraksi DNA dari tulang, yang melonjak dari 22 persen menjadi 80 persen. Pakar forensik Vu Anh Tuan menambahkan bahwa keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya melacak hubungan kekerabatan hingga empat atau lima generasi, baik melalui garis keturunan ayah maupun ibu.
Efektivitas pendekatan baru ini telah teruji di lapangan, seperti pada uji coba di Pemakaman Martir Tra Linh yang mencapai tingkat keberhasilan ekstraksi di atas 93 persen. Saat ini, skala penggunaan teknologi tersebut tengah diperluas ke Pemakaman Martir Giong Rieng yang menampung hampir 1.000 makam tak dikenal. Langkah ini diproyeksikan menjadi pilar utama dalam mendukung "Kampanye 500 Hari" untuk mempercepat proses identifikasi para martir di seluruh negeri.
Ke depannya, Akademi Sains dan Teknologi Vietnam berencana untuk mengoptimalkan alur kerja teknologi ini agar dapat didistribusikan ke berbagai laboratorium di seluruh wilayah Vietnam. Transfer teknologi ini diharapkan mampu memberikan kepastian bagi keluarga para pahlawan yang telah menanti selama puluhan tahun, sekaligus menuntaskan tugas sejarah bangsa dalam memberikan penghormatan terakhir kepada para martir.