Di tengah tantangan perlambatan manufaktur global, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia justru menunjukkan ketangguhan sebagai pilar utama investasi nasional. Tingginya minat pelaku usaha domestik maupun asing membuat kapasitas beberapa kawasan mulai mendekati titik jenuh, sehingga urgensi untuk melakukan ekspansi menjadi tak terelakkan.
Tiga lokasi strategis, yakni KEK Gresik di Jawa Timur, KEK Kendal di Jawa Tengah, dan KEK Galang Batang di Kepulauan Riau, saat ini telah mengajukan permohonan perluasan lahan. Langkah ekspansif ini dilakukan menyusul keterbatasan daya tampung kawasan eksisting dalam mengakomodasi arus masuk investasi baru yang terus meningkat.
Hingga tahun 2025, catatan kinerja KEK secara nasional tergolong impresif dengan realisasi investasi kumulatif menyentuh angka Rp335 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 248.459 orang. Pada periode berjalan, kawasan-kawasan ini berhasil mencatatkan investasi sebesar Rp82,5 triliun dengan kontribusi nilai ekspor mencapai Rp43,95 triliun.
Pemerintah menyadari bahwa keberhasilan tersebut harus dibarengi dengan pembenahan berkelanjutan. Sejumlah agenda strategis menjadi prioritas, mulai dari percepatan perizinan, optimalisasi insentif fiskal, peningkatan kemudahan berusaha, hingga penguatan infrastruktur pendukung agar daya saing KEK tetap kompetitif di kancah global.
Potensi ekonomi dari rencana perluasan ketiga KEK ini cukup masif. Proyeksi investasi baru mencakup Rp410,78 triliun untuk KEK Gresik, Rp370 triliun untuk KEK Kendal, dan Rp114,2 triliun untuk KEK Galang Batang. Jika terealisasi, ekspansi ini diprediksi mampu menyerap lebih dari 500.000 tenaga kerja baru, memberikan dampak positif yang luas bagi perekonomian nasional.