Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) tengah menjajaki kolaborasi strategis dengan perusahaan asal Jepang, Forest Holdings, terkait implementasi teknologi disinfektan mutakhir bernama Oxilink. Pertemuan yang berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026 tersebut menandai langkah awal adopsi sistem biosekuriti berbasis singlet oxygen untuk meningkatkan standar kesehatan di industri perunggasan nasional.
Manager Corporate Strategy Division Forest Holdings, Toshihiro Nakamura, menjelaskan bahwa Oxilink dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan disinfektan konvensional yang kerap menggunakan bahan kimia korosif seperti klorin. Keunggulan utama teknologi ini terletak pada kemampuannya untuk mengeliminasi mikroorganisme patogen tanpa membahayakan kesehatan hewan, bahkan saat diaplikasikan langsung ketika ternak berada di dalam kandang.
Lebih lanjut, teknologi ini menawarkan solusi atas masalah resistensi bakteri dan pembentukan biofilm pada sistem perpipaan air minum ternak. Dengan menjaga kebersihan infrastruktur distribusi air, Oxilink diklaim mampu meminimalisir risiko kontaminasi penyakit secara sistemik, sehingga kualitas air yang dikonsumsi unggas tetap terjaga standar higienitasnya.
Dekan Fapet UGM, Prof. Budi Guntoro, menyambut baik potensi inovasi tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak universitas terbuka untuk melakukan uji coba di fasilitas kandang tertutup (close house) milik Fapet UGM. Langkah ini diharapkan dapat membuktikan validitas ilmiah Oxilink sekaligus memberikan nilai tambah bagi riset dan proses pembelajaran mahasiswa terkait teknologi peternakan modern.
Sinergi antara Fapet UGM dan Forest Holdings ini diharapkan menjadi titik balik dalam penerapan biosekuriti yang lebih berkelanjutan. Selain memberikan solusi teknis bagi para peternak, kolaborasi ini menegaskan komitmen kedua belah pihak dalam menghadirkan teknologi yang tidak hanya efektif secara ekonomi, namun juga aman bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan hewan.