Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) memberikan klarifikasi tegas menyusul beredarnya rekaman video di media sosial yang memperlihatkan kerumunan pendaki di jalur pendakian via Selo. Pihak TNGM memastikan bahwa seluruh akses pendakian menuju puncak Gunung Merapi hingga saat ini masih ditutup sepenuhnya bagi masyarakat umum.

Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menyatakan bahwa penutupan ini merupakan langkah mitigasi yang berkelanjutan. Kebijakan ini merujuk pada penetapan status Gunung Merapi yang hingga kini masih berada di Level III atau Siaga. Sejak peningkatan aktivitas vulkanik yang dimulai pada Mei 2018 dan diperbarui pada November 2020, otoritas terkait tidak memberikan izin untuk kegiatan pendakian kecuali untuk keperluan riset dan mitigasi bencana.

Berdasarkan data dari BPPTKG, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan ancaman guguran lava dan awan panas yang dapat menjangkau jarak hingga 7 kilometer di sektor tertentu. Jalur pendakian favorit melalui New Selo menuju Pasar Bubrah dan puncak dipastikan berada langsung di dalam radius bahaya, yang membuat keselamatan para pendaki terancam oleh risiko lontaran material vulkanik maupun awan panas.

TNGM mengimbau masyarakat untuk tidak termakan informasi hoaks mengenai pembukaan jalur pendakian secara mandiri. Sebagai alternatif kegiatan wisata yang aman, masyarakat disarankan untuk mengunjungi destinasi di luar radius bahaya, seperti Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang. Pihak pengelola menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan ini merupakan upaya krusial dalam menjaga keselamatan publik dari potensi erupsi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.