Sektor tekstil dan garmen Vietnam kini berada di persimpangan jalan krusial. Setelah mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar US$22,2 miliar pada semester pertama 2026, pelaku industri dipaksa untuk segera meninggalkan model manufaktur berbiaya rendah dan beralih menuju ekosistem produksi yang lebih bernilai tinggi serta berkelanjutan.

Asosiasi Tekstil dan Garmen Vietnam (VITAS) menyoroti pergeseran tantangan perdagangan global, terutama terkait aturan ketat mengenai ekonomi sirkular dan jejak karbon di Eropa. Persyaratan ini kini menjadi standar wajib bagi pelaku usaha jika ingin tetap mendapatkan pesanan dari pasar internasional. Tekanan ini dirasakan berat, terutama oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang harus menanggung biaya tinggi untuk kepatuhan ESG dan modernisasi teknologi.

Sebagai respons strategis, VITAS telah membentuk empat komite khusus yang berfokus pada pengembangan mode, bisnis internasional, pembangunan berkelanjutan, serta inovasi teknologi digital. Langkah ini bertujuan untuk mengoordinasikan langkah pelaku industri dalam mengamankan rantai pasok domestik, mengingat ketergantungan Vietnam terhadap bahan baku impor masih berada di angka 60 hingga 70 persen.

Ketidakpastian ekonomi global, yang ditandai dengan inflasi tinggi dan melonjaknya biaya logistik hingga 40 persen, memaksa perusahaan besar seperti May 10 Corporation dan Hung Yen Garment untuk melakukan restrukturisasi drastis. Mereka kini menerapkan model produksi cerdas yang fleksibel, guna menjawab permintaan pasar akan produk dengan desain kompleks namun dengan waktu pengiriman yang semakin singkat.

Sementara itu, Grup Tekstil dan Garmen Vietnam (Vinatex) menegaskan pentingnya efisiensi arus kas dan optimalisasi persediaan bagi perusahaan anggota. Di tengah ancaman penurunan pesanan untuk kuartal keempat tahun 2026, diversifikasi pasar dan investasi pada infrastruktur ramah lingkungan, seperti pemanfaatan tenaga surya dan otomatisasi pabrik, menjadi kunci bagi keberlanjutan industri tekstil Vietnam dalam jangka panjang.