Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi memulai langkah kolaborasi strategis dengan perusahaan teknologi asal Korea Selatan, Stellarvision, untuk mengembangkan teknologi deteksi kebocoran pipa air bawah tanah. Kerja sama yang diformalkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian Proof of Concept (PoC) ini ditujukan untuk menciptakan solusi atas tantangan hilangnya sumber daya air akibat kebocoran pipa yang sulit terdeteksi secara konvensional.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyambut positif sinergi ini. Ia menegaskan bahwa kemitraan tersebut merupakan langkah konkret UGM dalam menghadirkan inovasi teknologi yang mampu mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Proyek riset ini juga didukung oleh peran alumni UGM yang kini berkiprah sebagai profesional di Stellarvision.

Dalam implementasinya, kedua pihak akan memanfaatkan teknologi Fluidvision milik Stellarvision yang berbasis pada citra satelit Synthetic Aperture Radar (SAR). Teknologi tersebut akan diuji coba di fasilitas testbed Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM di Sleman, melalui simulasi kebocoran pipa yang dilakukan secara terkontrol selama enam bulan ke depan.

Selain aspek teknis, pihak UGM menjamin bahwa seluruh rangkaian penelitian akan dijalankan dengan standar profesionalisme tinggi. Fokus utama mencakup perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta kerahasiaan data sesuai dengan regulasi internal universitas dan hukum yang berlaku. Keberhasilan inisiatif ini diharapkan mampu menghadirkan metode pemeliharaan infrastruktur air yang lebih efektif dan efisien bagi masyarakat luas.