Sejarah modern militer Iran telah memasuki babak baru dalam upaya lokalisasi industri pertahanan. Di tengah berbagai tantangan embargo, Organisasi Penelitian dan Jihad Kemandirian Angkatan Darat berhasil menyempurnakan Zulfiqar 3, sebuah tank tempur utama yang kini menjadi kebanggaan industri pertahanan domestik mereka.
Pengembangan Zulfiqar 3 merupakan akumulasi dari evolusi panjang lini tank Zulfiqar. Berbeda dengan pendahulunya, model ini menampilkan desain menara segi lima yang menyerupai tank M1 Abrams. Keunggulan desain ini diperkuat dengan penggunaan armor komposit canggih, yang menggantikan ketergantungan pada armor reaktif eksplosif (ERA) konvensional, demi memberikan perlindungan lebih optimal terhadap ancaman rudal anti-tank modern.
Dari sisi performa, Zulfiqar 3 dipersenjatai dengan meriam kaliber 125mm yang presisi. Mesin diesel berkekuatan 1.000 tenaga kuda memungkinkan tank ini melaju hingga kecepatan 72 kilometer per jam di medan datar. Selain itu, efisiensi operasional ditingkatkan dengan pengurangan jumlah kru menjadi tiga personel, berkat integrasi sistem autoloader dan teknologi kontrol tembakan mutakhir.
Fitur perlindungan menjadi prioritas utama dalam perancangan tank ini. Zulfiqar 3 dilengkapi dengan sistem proteksi Sh.M.H untuk menyaring ancaman kimia, biologi, dan nuklir, serta jaring penyamaran thermal untuk mereduksi deteksi inframerah musuh. Kehadiran kamera sirkuit tertutup 360 derajat juga memberikan kesadaran situasional yang lebih baik bagi awak di medan pertempuran.
Dengan integrasi sistem pengukur jarak laser dan kemampuan manuver di perairan dangkal, Zulfiqar 3 membuktikan bahwa Iran mampu mengombinasikan elemen desain internasional dengan inovasi teknologi asli. Proyek ini menegaskan posisi Iran sebagai salah satu kekuatan regional yang mampu memproduksi alat utama sistem senjata (alutsista) secara mandiri dan kompetitif.