Upaya pencapaian target Net Zero kini menjadi tolok ukur baru bagi daya saing dunia usaha di Vietnam. Dalam forum ekonomi strategis yang digelar baru-baru ini, Kamar Dagang dan Industri Vietnam (VCCI) menegaskan bahwa sektor swasta memegang peran sentral sebagai eksekutor utama dalam mentransformasi komitmen keberlanjutan menjadi aksi nyata yang terukur.
Wakil Presiden VCCI, Nguyen Quang Vinh, mengakui bahwa meskipun peran pemerintah sebagai penyusun kebijakan sangat vital, dunia usaha kini menghadapi tantangan berat. Banyak perusahaan, terutama skala kecil dan menengah, masih bergulat dengan keterbatasan modal, akses teknologi, serta manajemen data emisi yang kompleks untuk memenuhi standar tata kelola lingkungan, sosial, dan perusahaan (ESG).
Menanggapi tantangan tersebut, Wakil Perdana Menteri Nguyen Van Thang menyatakan komitmen pemerintah untuk menciptakan ekosistem pendukung yang kuat. Fokus utama pemerintah kini mencakup transisi energi terbarukan, pengembangan keuangan hijau, serta pembentukan pasar karbon yang kondusif. Langkah ini bertujuan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak lagi mengorbankan kelestarian lingkungan.
Perusahaan berskala besar diharapkan menjadi katalisator bagi rantai nilai yang lebih luas. Sebagai contoh, langkah yang diambil oleh Saigon Beer, Alcohol and Beverage Corporation (SABECO) menunjukkan bahwa modernisasi operasional—mulai dari efisiensi energi hingga standar pemasok—dapat memberikan dampak sistemik bagi ekosistem industri secara keseluruhan. Atas komitmennya, SABECO menerima apresiasi sebagai "Perusahaan Hijau" yang dinilai melalui parameter ketat World Energy Council (WEC).
Ke depannya, keberhasilan bisnis tidak lagi hanya dihitung berdasarkan pangsa pasar, tetapi pada kapasitas perusahaan dalam beradaptasi secara bertanggung jawab. Integrasi keberlanjutan ke dalam setiap lini operasional telah menjadi tuntutan zaman yang krusial bagi keberlangsungan bisnis jangka panjang di tengah dinamika ekonomi global saat ini.