Pasar saham regional Asia mayoritas berada dalam tekanan jual pada perdagangan Selasa. Fenomena ini dipicu oleh aksi profit taking masif yang menyasar saham-saham sektor teknologi, sekaligus mematahkan optimisme pasar setelah Wall Street mencatatkan reli positif pada sesi sebelumnya.

Guncangan di bursa Asia bermula dari anjloknya nilai saham dua raksasa teknologi asal Korea Selatan. Saham Samsung Electronics terpantau merosot lebih dari 5%, kendati perusahaan baru saja mencatatkan performa laba yang solid berkat tingginya permintaan chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Kondisi serupa dialami oleh SK Hynix yang melemah hampir 4% setelah pengumuman rencana perusahaan untuk melantai di bursa Amerika Serikat.

Sentimen negatif ini merembet ke sejumlah indeks acuan utama di kawasan. Indeks KOSPI Korea Selatan mencatatkan penurunan tajam sebesar hampir 6%, diikuti oleh indeks Nikkei 225 Jepang yang tergerus lebih dari 1%. Sementara itu, pasar Australia dan Tiongkok daratan turut terseret ke zona merah, meski bursa Hong Kong berhasil mempertahankan tren penguatan untuk hari keempat berturut-turut.

Koreksi yang terjadi di bursa regional ini diproyeksikan akan memberikan tekanan psikologis bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi guncangan, khususnya pada saham-saham sektor teknologi dan ekonomi digital yang memiliki korelasi tinggi dengan sentimen pasar global. Saat ini, para investor domestik terpantau mengambil langkah antisipatif dengan memantau ketat pergerakan arus modal asing sebagai respons terhadap volatilitas sektor teknologi Asia.