Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang saat ini berada pada Level III atau Siaga, tidak menyurutkan tekad para nelayan di pesisir Lampung untuk tetap mencari nafkah. Meski potensi bahaya mengintai, roda ekonomi di sektor perikanan tetap berputar dengan menerapkan strategi mitigasi mandiri di lapangan.

Berdasarkan laporan terkini dari Magma Badan Geologi Kementerian ESDM, gunung api yang berlokasi di Selat Sunda tersebut terpantau masih mengeluarkan asap kawah dengan ketinggian bervariasi antara 10 hingga 100 meter. Aktivitas kegempaan yang didominasi oleh tremor menerus menjadi alasan utama otoritas berwenang menetapkan zona larangan beraktivitas dalam radius minimal tiga kilometer dari pusat kawah.

Edi Muhtadi, seorang nelayan dari Kampung Pulau Pasaran, Bandar Lampung, mengungkapkan bahwa komunitas nelayan sejatinya telah memahami risiko yang ada. Menurutnya, keputusan untuk tetap melaut didasari pada upaya menjaga pemenuhan kebutuhan hidup, namun dengan syarat mutlak: menghindari area terlarang yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

"Kami sudah terbiasa memantau kondisi gunung. Jika tanda-tanda aktivitas meningkat, kami segera mengalihkan area tangkapan ke wilayah yang lebih aman. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya," ujar Edi.

Kendati mayoritas nelayan patuh pada rekomendasi keselamatan, Edi tidak menampik adanya segelintir oknum yang masih nekat mendekati zona bahaya demi hasil tangkapan yang lebih besar. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas terkait dalam memastikan imbauan keselamatan ditaati sepenuhnya, mengingat trauma bencana tsunami Selat Sunda tahun 2018 masih membekas dalam ingatan kolektif masyarakat pesisir.