Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan rangkaian letusan intensif sepanjang Juli 2026. Tercatat sebanyak 12 kali erupsi terjadi dalam kurun waktu singkat, memicu kekhawatiran warga di pesisir Banten dan Lampung yang masih memiliki trauma mendalam atas bencana tsunami Selat Sunda 2018 silam.
Menanggapi situasi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diimbau untuk mematuhi zona larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif guna menghindari risiko paparan material vulkanik yang berbahaya bagi kesehatan pernapasan.
Meskipun aktivitas vulkanik meningkat, para ahli kegunungapian memberikan pandangan yang menenangkan. Vulkanolog dari ITB, Mirzam Abdurrachman, menjelaskan bahwa kondisi fisik Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan tahun 2018. Karena tubuh gunung belum mencapai ketinggian yang memicu keruntuhan masif, potensi tsunami besar dinilai sangat minim.
"Gunung Anak Krakatau adalah gunung api muda yang sedang bertumbuh. Erupsi yang terjadi adalah fenomena alamiah bagi gunung tersebut untuk menambah massa tubuhnya," ujar vulkanolog senior Surono. Ia menegaskan bahwa keindahan alam ini tetap bisa dinikmati selama masyarakat mengikuti rambu-rambu keamanan yang telah ditetapkan oleh pihak otoritas setempat.
Di lapangan, otoritas pemerintah daerah, termasuk Pemkab Serang dan Polda Lampung, terus memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana. Sosialisasi mengenai bahaya informasi hoaks terkait erupsi juga digencarkan untuk menjaga kondusivitas sosial dan ekonomi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada sektor kelautan dan pariwisata.
Sejarah panjang Krakatau, dari letusan dahsyat tahun 1883 hingga kemunculan 'anaknya' pada 1927, menjadi pengingat bagi kita akan kedahsyatan kekuatan geologi bumi. Namun, dengan pengawasan ketat dan kesiapsiagaan mitigasi yang terus diperbarui, masyarakat diharapkan dapat hidup berdampingan secara harmonis dan waspada dengan aktivitas gunung api tersebut.