Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau ke Level III atau status Siaga kini mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri pariwisata di kawasan pesisir Lampung Selatan. Sejumlah pelaku usaha penyedia jasa trip wisata melaporkan adanya penurunan jumlah kunjungan yang drastis akibat banyaknya calon wisatawan yang memutuskan untuk membatalkan perjalanan mereka.

Berdasarkan laporan terkini dari MAGMA Indonesia, Badan Geologi Kementerian ESDM, Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas dengan emisi asap kawah berwarna putih setinggi 10 hingga 100 meter di atas puncak. Sebagai langkah mitigasi, pihak berwenang menegaskan larangan bagi masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif.

Salah satu pelaku jasa wisata, Chandra, mengungkapkan bahwa meskipun paket wisata yang ditawarkan tidak mengizinkan pendakian atau pendaratan di pulau tersebut, sentimen negatif terhadap status Siaga tetap memicu kecemasan. Wisatawan kini lebih memilih membatalkan rencana perjalanan mereka karena faktor keamanan, meskipun operasional wisata di Selat Sunda sebenarnya masih berjalan terbatas dari jarak aman.

Sebelum meningkatnya aktivitas gunung, Chandra biasanya mampu mengoperasikan paket wisata dengan kapasitas sekitar 50 orang per keberangkatan, dengan tarif Rp 400.000 per orang yang sudah mencakup fasilitas transportasi, konsumsi, dan penginapan di Pulau Sebesi. Saat ini, pembatalan pesanan tercatat datang dari berbagai daerah, termasuk wisatawan asal Bekasi dan Palembang yang sebelumnya menjadi pelanggan rutin.