Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tercatat sebanyak 18 kali letusan telah terjadi sejak tanggal 2 Juli 2026 hingga pertengahan bulan ini.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Rio Bonik Situmorang, menjelaskan bahwa meski intensitas erupsi sempat tinggi dalam beberapa hari terakhir, gunung tersebut kini masih bertahan pada Level III atau Siaga. Dinamika kegempaan yang fluktuatif terus dipantau secara ketat untuk mendeteksi perubahan perilaku magma di bawah permukaan.
Kendati pengamatan visual dari Pos Pasauran, Kabupaten Serang, sempat terhambat oleh kabut tebal, tim ahli tetap memastikan akurasi data melalui dukungan instrumen seismik modern. Pemantauan dilakukan selama 24 jam penuh untuk memberikan informasi yang valid dan tepat waktu bagi otoritas terkait.
Hingga saat ini, zona rekomendasi keamanan masih tetap berlaku secara konsisten. Masyarakat, nelayan, maupun wisatawan dilarang keras mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer guna mengantisipasi risiko lontaran material pijar, awan panas, maupun potensi bahaya lainnya yang menyertai aktivitas vulkanik.
Pihak PVMBG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan senantiasa merujuk pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh instansi berwenang. Evaluasi berkala akan terus dilakukan oleh tim vulkanologi untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya demi menjamin keselamatan warga di sekitar wilayah terdampak.