Gunung Semeru kini berada dalam status Level III atau Siaga menyusul intensitas aktivitas vulkanik yang terus meningkat sejak akhir Juni 2026. Para ahli kini menyoroti ancaman banjir lahar dingin yang dinilai lebih berbahaya bagi masyarakat di sekitar lereng gunung dibandingkan erupsi itu sendiri.

Dosen Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, menjelaskan bahwa akumulasi material vulkanik berupa pasir, kerikil, dan batuan besar di puncak gunung sangat rentan terbawa arus saat hujan deras mengguyur. Fenomena ini berisiko memicu banjir lahar secara mendadak, bahkan jika cuaca di pemukiman warga bagian bawah terlihat cerah.

Kawasan aliran Sungai Besuksemut ditetapkan sebagai zona merah yang paling rawan dilintasi awan panas maupun banjir lahar. Oleh karena itu, masyarakat diinstruksikan untuk tidak beraktivitas di radius bahaya yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) guna menghindari risiko fatal dari bongkahan material vulkanik.

Terkait masih adanya aktivitas penambangan pasir di zona rawan, Dr. Nova mengakui adanya dilema antara kebutuhan ekonomi warga dengan keselamatan jiwa. Ia menyarankan perlunya penguatan standar keselamatan kerja yang ketat serta tanggung jawab penuh dari pihak terkait, meskipun langkah preventif terbaik adalah menghentikan aktivitas di area tersebut sepenuhnya.

Secara ilmiah, karakteristik magma Semeru yang memiliki viskositas tinggi membentuk kubah lava yang tidak stabil. Kubah ini sewaktu-waktu dapat runtuh akibat tekanan magma dari bawah atau pengaruh curah hujan, yang kemudian memicu luncuran awan panas guguran. Belajar dari peristiwa Desember 2021, mitigasi berbasis pemahaman karakter gunung menjadi kunci utama agar warga yang hidup di kawasan tersebut tetap aman dari ancaman erupsi.