PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) mengumumkan langkah transformasi bisnis yang signifikan menuju sektor pertambangan batu bara kokas (coking coal). Aksi korporasi ini ditempuh melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue bernilai fantastis mencapai Rp27,1 triliun untuk mengeksekusi akuisisi saham PT Borneo Prima (BP) via inbreng. Langkah strategis ini diproyeksikan bakal merombak total struktur keuangan serta memacu pertumbuhan pendapatan perseroan secara drastis.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Borneo Prima merupakan entitas tambang batu bara metalurgi yang memegang hak konsesi seluas 15.000 hektare di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Mengacu pada laporan SMG Consultant berstandar JORC 2012, Borneo Prima mengantongi total cadangan batu bara berkualitas tinggi (7.850 kcal/kg) mencapai 87,7 juta ton. Nilai tersebut terdiri dari cadangan terbukti (proven reserve) sebesar 42,4 juta ton dan cadangan terkira (probable reserve) sebanyak 45,3 juta ton.

Manajemen FORU sangat optimistis terhadap prospek batu bara kokas karena fungsinya yang vital sebagai bahan baku utama manufaktur baja, berbeda dari batu bara termal yang dibayangi tren penurunan permintaan global. Permintaan pasar diprediksi terus menguat seiring pesatnya ekspansi industri baja di Asia Tenggara dan India. Di pasar domestik, asosiasi produsen mencatat produksi nasional baru menyuplai sekitar 20 persen dari total kebutuhan dalam negeri, sehingga peluang pasar dinilai sangat terbuka luas dengan proyeksi harga komoditas yang terjaga di atas US$200 per metrik ton dalam lima tahun mendatang.

Pengambilalihan ini diproyeksikan membawa lonjakan tajam pada kinerja finansial konsolidasi FORU. Total aset perseroan diperkirakan melambung dari semula Rp33,55 miliar menjadi Rp8,71 triliun, sementara ekuitas terkatrol hingga Rp7,15 triliun. Dari sisi operasional, pendapatan usaha FORU diproyeksikan meroket hingga 35 kali lipat menjadi Rp195,66 miliar, yang secara langsung membalikkan performa perseroan dari catatan rugi bersih Rp4,15 miliar menjadi raihan laba bersih sebesar Rp11,94 miliar.

Guna memuluskan rencana ekspansi besar ini, FORU akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 215,09 miliar saham baru pada harga pelaksanaan Rp126 per saham. Porsi terbesar dari hasil rights issue, yakni senilai Rp20,82 triliun (76,81 persen), dialokasikan khusus untuk akuisisi saham Borneo Prima. Sementara itu, sisa dana yang terserap bakal disalurkan dalam bentuk pinjaman modal kerja untuk menopang kelancaran operasional pertambangan di lapangan.