Menghadapi tantangan musim kemarau yang berpotensi menurunkan produktivitas sektor perikanan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengambil langkah preventif dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi aerator di kolam-kolam pembudidaya. Langkah ini diambil untuk memastikan kadar oksigen dalam air tetap terjaga, sehingga risiko kematian massal pada ikan air tawar dapat diminimalisir secara signifikan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, menjelaskan bahwa optimasi aerator merupakan bagian dari strategi besar untuk menjaga stabilitas produksi perikanan di wilayahnya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi ini krusial untuk mempertahankan ekosistem kolam agar tetap layak bagi pertumbuhan ikan meskipun di tengah kondisi cuaca yang ekstrem.
Selain intervensi teknis, pemerintah setempat juga memperkuat pendampingan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) bagi para peternak. Langkah ini mencakup pemantauan kualitas air secara berkala, penggunaan benih unggul yang memiliki tingkat ketahanan tinggi, serta pengadopsian sistem budidaya modern seperti bioflok dan Recirculating Aquaculture System (RAS).
Victor menambahkan bahwa upaya tersebut didukung oleh koordinasi lintas sektor dalam pengelolaan sumber daya air serta pemanfaatan data iklim sebagai acuan dalam pengambilan keputusan di lapangan. Seluruh pembudidaya juga dibekali dengan bimbingan teknis guna meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola usaha secara profesional.
Saat ini, hasil produksi perikanan budidaya dari Kabupaten Malang tidak hanya menyokong kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi tulang punggung pasokan di berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk Kota Malang, Batu, Surabaya, hingga Blitar. Berdasarkan data, sekitar 20 hingga 30 persen dari total produksi ikan di Kabupaten Malang disalurkan ke pasar luar daerah sebagai bentuk kontribusi nyata bagi ketahanan pangan regional.