Aktivitas vulkanik Gunung Awu di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menunjukkan dinamika yang fluktuatif sepanjang periode 23 hingga 30 Juni 2026. Berdasarkan laporan resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tercatat penurunan frekuensi gempa vulkanik dangkal dari 18 kejadian menjadi 16 kejadian per hari.

Kendati demikian, pihak Badan Geologi mencatat adanya peningkatan pada aktivitas gempa vulkanik dalam. Selain itu, pengaruh pascagempa besar di Mindanao, Filipina, pada awal Juni lalu masih memicu tingginya frekuensi gempa tektonik jauh di wilayah tersebut. Pengamatan visual di kawah gunung pun belum menunjukkan perubahan signifikan, dengan embusan asap yang masih terbatas di dalam area kawah.

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menekankan bahwa potensi ancaman erupsi magmatik maupun freatik masih perlu diwaspadai. Dinamika suplai magma yang berkelanjutan di kedalaman dangkal menuntut adanya kewaspadaan terhadap kemungkinan peningkatan aktivitas seismik secara tiba-tiba atau swarm gempa.

Hingga saat ini, status Gunung Awu ditetapkan pada Level III atau Siaga. Masyarakat serta wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apapun di dalam radius empat kilometer dari pusat kawah. Pihak berwenang mengimbau warga agar tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi dari instansi terkait guna menghindari disinformasi yang tidak bertanggung jawab.