Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Gunung Anak Krakatau, Rabu (8/7/2026). Gunung api yang terletak di perairan Selat Sunda tersebut tercatat meletus sebanyak enam kali hanya dalam kurun waktu kurang dari 10 jam.

Rangkaian erupsi dimulai pada dini hari pukul 00.11 WIB yang terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 24 milimeter. Aktivitas terus berlanjut sepanjang pagi hingga pukul 09.54 WIB, dengan intensitas letusan yang bervariasi. Kolom abu vulkanik rata-rata mencapai ketinggian antara 100 hingga 250 meter di atas puncak, dengan dominasi arah sebaran abu menuju utara hingga barat laut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Deny Mardiono, mengonfirmasi bahwa setiap erupsi memiliki karakteristik seismik yang berbeda, dengan amplitudo maksimum tercatat mencapai 49 milimeter pada letusan pukul 09.35 WIB. Meski frekuensi letusan cukup intens, otoritas vulkanologi sejauh ini masih mempertahankan status gunung tersebut pada Level III atau Siaga.

Sebagai langkah preventif, PVMBG mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk tidak mendekati kawah aktif. Batas aman ditetapkan pada radius 3 kilometer dari pusat erupsi guna mengantisipasi risiko lontaran material vulkanik atau bahaya susulan lainnya.

Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada, serta secara rutin memantau informasi terkini melalui kanal resmi PVMBG. Pihak berwenang terus melakukan pengamatan intensif untuk memantau fluktuasi aktivitas gunung yang berada di jalur vital Selat Sunda tersebut.