Wacana mengenai kemungkinan fusi atau penyatuan antara Partai Gerindra dan Partai NasDem kini tengah menjadi sorotan tajam di kalangan pengamat politik nasional. Arifki Chaniago, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, menilai bahwa langkah integrasi dua entitas besar tersebut tidak hanya sekadar mengonsolidasi kekuatan, tetapi juga berpotensi menciptakan ketidakpastian baru dalam konfigurasi kekuasaan di Indonesia.

Arifki menyoroti latar belakang historis para pemimpin kedua partai, yakni Prabowo Subianto dan Surya Paloh, yang memiliki akar sejarah dari Partai Golkar. Menurutnya, pengalaman masa lalu dalam menghadapi dinamika faksi internal yang keras di partai sebelumnya menjadi catatan penting. Jika kedua entitas ini dipaksakan melebur, bukan tidak mungkin reproduksi konflik internal akan muncul kembali, yang pada akhirnya dapat memengaruhi pengambilan keputusan strategis partai di masa depan.

Lebih lanjut, ia menyoroti dilema yang dihadapi Partai NasDem. Sebagai partai yang selama ini mengusung isu perubahan dan progresivitas, bergabung ke dalam blok kekuasaan yang lebih besar bisa mengaburkan karakter asli partai tersebut. Kondisi ini dinilai dapat membatasi ruang manuver NasDem, terutama jika mereka ingin kembali mengusung figur alternatif seperti Anies Baswedan pada kontestasi Pilpres 2029 mendatang.

Di sisi lain, respons berbeda datang dari internal Partai NasDem. Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, secara tegas membantah adanya wacana fusi tersebut. Ia menjelaskan bahwa gagasan yang diusung oleh Surya Paloh bukanlah fusi, melainkan pembentukan 'political block'. Konsep ini ditawarkan sebagai upaya agar kerja sama antarpartai dalam mendukung kebijakan pemerintah dapat berjalan lebih harmonis, substansial, dan tidak terjebak dalam pola hubungan yang transaksional.