Bencana kabut asap hebat yang melanda wilayah Riau pada tahun 2015 menyisakan luka mendalam bagi Anggi Wahyuda (25). Peristiwa kelam itu tidak hanya merusak kelestarian lingkungan, tetapi juga mengubah garis hidup Anggi secara drastis setelah ia kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan lalu lintas yang dipicu oleh terbatasnya jarak pandang.

Saat masih duduk di bangku SMA, motor yang dikendarai pemuda asal Binjai ini ditabrak oleh sebuah truk tangki di tengah kepulan asap tebal yang menyelimuti jalanan. Tabrakan keras tersebut menyebabkan kaki kanannya mengalami cedera parah hingga tim medis terpaksa mengambil tindakan amputasi demi menyelamatkan nyawanya.

Kehilangan salah satu anggota tubuh membuat kondisi mental Anggi sempat runtuh. Selama dua tahun, ia mengalami depresi berat, menarik diri dari pergaulan, dan enggan keluar rumah karena takut mendapat stigma serta ejekan dari lingkungan sekitar. Kepercayaan dirinya runtuh hingga ia kerap sengaja datang terlambat ke sekolah guna menghindari perhatian dari rekan-rekannya.

Titik balik perjuangan Anggi dimulai saat ia berada di kelas akhir sekolah menengah. Di tengah keputusasaan karena nilai akademisnya merosot akibat masa pemulihan yang panjang, cemoohan serta keraguan dari orang-orang sekitar justru menjadi pemantik semangat baginya untuk membuktikan diri. Ia memilih untuk belajar mengikhlaskan keadaan dan bertekad untuk terus berkembang melampaui keterbatasan fisiknya.

Kini, perjuangan keras dan keikhlasannya berbuah manis. Anggi bertransformasi menjadi seorang pembuat konten inspiratif dan pendaki disabilitas tangguh yang berhasil menaklukkan 30 puncak gunung di Indonesia. Kisah hidupnya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi yang luar biasa.