Kawasan wisata religi Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menjadi pusat perhatian publik. Kali ini, sorotan tertuju pada beredarnya sebuah daftar harga resmi terkait layanan selamatan dan nadzar yang ditawarkan di sekitar area makam tokoh spiritual Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono.

Unggahan yang pertama kali mencuat melalui platform media sosial X tersebut menampilkan rincian biaya untuk berbagai jenis paket ritual, dengan nominal yang bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Salah satu poin yang paling menyita perhatian warganet adalah paket selamatan yang menyertakan sajen berupa seekor sapi dengan estimasi biaya mencapai Rp20 juta.

Munculnya daftar harga ini memancing perdebatan luas di kalangan pengguna internet. Sebagian masyarakat mengaku terkejut dengan adanya standar tarif tersebut, sementara pihak lain menilai bahwa angka yang tercantum kemungkinan besar mencakup seluruh kebutuhan operasional, mulai dari pengadaan bahan makanan, perlengkapan upacara, hingga jasa penyelenggaraan selamatan itu sendiri.

Dalam kacamata budaya Jawa, tradisi selamatan dan nadzar merupakan bentuk manifestasi rasa syukur atau pemenuhan janji spiritual yang bersifat personal. Di Gunung Kawi, tradisi ini telah berlangsung selama turun-temurun, di mana peziarah kerap menyertakan tumpeng, hasil bumi, hingga pagelaran wayang sebagai sarana pelengkap dalam doa yang mereka panjatkan.

Pihak pengelola maupun penyedia jasa di kawasan tersebut memfasilitasi kebutuhan logistik para peziarah, mengingat Gunung Kawi merupakan destinasi ziarah bagi ribuan pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain sebagai tempat ritual, kawasan ini juga merupakan pusat wisata religi dan sejarah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung.

Merespons kegaduhan ini, para pemerhati budaya mengimbau masyarakat untuk melihat informasi tersebut dalam konteks yang objektif. Banyak pengunjung yang datang ke Gunung Kawi sebenarnya hanya bertujuan untuk berziarah, mempelajari sejarah, atau sekadar menikmati suasana alam, sehingga persepsi mengenai ritual mistis tidak bisa dipukul rata bagi setiap individu yang datang ke lokasi tersebut.