Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat kesiapsiagaan guna mengantisipasi ancaman penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah setempat berfokus pada pencegahan dini dengan memperkuat sistem pengawasan (surveilans), komunikasi risiko, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Langkah nyata ini diwujudkan dalam Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang berlangsung di Puskesmas Medokan Ayu pada 21–22 Juli 2026. Agenda ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Pokja Risk Communication and Community Engagement (RCCE), dengan melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan hingga insan media.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, menjelaskan bahwa kunci utama penanganan zoonosis adalah kesiapsiagaan sebelum berkembang menjadi wabah. Salah satu ancaman yang diwaspadai, terutama saat musim hujan, adalah leptospirosis yang ditularkan melalui urine tikus di lingkungan yang kotor. Warga diimbau untuk membiasakan mencuci tangan, memakai alas kaki di area banjir, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Gejala klinis leptospirosis biasanya diawali demam tinggi secara mendadak disertai nyeri otot tanpa batuk pilek. Selain leptospirosis, Dinkes juga memantau ketat kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Walau Surabaya bukan daerah endemis rabies, masyarakat diminta tetap responsif mencari bantuan medis jika terkena gigitan hewan penular seperti anjing atau kucing.

Berdasarkan data terbaru, tidak ditemukan kasus flu burung maupun antraks pada manusia di Surabaya dalam lima tahun terakhir (2021 hingga pertengahan 2026). Namun, angka suspek leptospirosis dan kasus GHPR tercatat masih fluktuatif. Pada tahun 2025, dilaporkan ada 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR, sementara hingga pertengahan tahun 2026 telah tercatat masing-masing 14 dan 33 kasus.

Dari sektor kesehatan hewan, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, drh. Wafiroh, mengingatkan pentingnya vaksinasi berkala untuk hewan peliharaan guna menekan risiko rabies. Masyarakat juga diimbau untuk tidak menyembelih atau mengonsumsi hewan ternak yang mati mendadak demi menghindari penularan penyakit berbahaya seperti antraks.

Program Manager Portkesmas, dr. Basra Ahmad Amru, menambahkan bahwa koordinasi taktis di tingkat daerah seperti di Surabaya menjadi fondasi krusial dalam menghadapi potensi pandemi global, mengingat sebagian besar penyakit menular baru bersumber dari hewan. Sejalan dengan itu, ketua Pokja RCCE, Rizky Ika Syafitri, menekankan pentingnya penyebaran informasi yang akurat dan mudah dipahami agar masyarakat secara aktif mengubah perilaku hidup bersih sehat.