Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan serius dalam memenangkan persaingan investasi sektor manufaktur di Asia Tenggara. Meskipun memiliki jumlah kawasan industri yang melimpah, daya tarik Indonesia disebut masih kalah kompetitif dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan bahwa hambatan utama yang dihadapi investor bukan lagi pada ketersediaan lahan. Pasalnya, Indonesia telah memiliki sekitar 180 kawasan industri yang tersebar di berbagai wilayah.
Masalah mendasar yang membuat investor ragu adalah efisiensi biaya usaha. Yusuf menyoroti besarnya biaya logistik Indonesia yang mencapai 14,3% terhadap PDB, jauh melampaui negara-negara tetangga. Selain itu, tingkat Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa penggunaan modal untuk menghasilkan output belum optimal.
Lebih lanjut, pembenahan sektor logistik menjadi agenda mendesak yang harus segera dilakukan pemerintah. Hal ini mencakup perbaikan konektivitas pelabuhan, percepatan birokrasi bea cukai, serta kepastian regulasi mengenai impor bahan baku dan stabilitas energi. Tanpa perbaikan struktural ini, penambahan jumlah kawasan industri tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan investasi asing langsung (FDI).
Menanggapi wacana perluasan investasi dari Rusia, Yusuf menyarankan agar pemerintah bersikap realistis. Mengingat Rusia belum termasuk dalam jajaran investor utama di tanah air dan adanya pengaruh sanksi internasional, langkah tersebut dipandang hanya sebatas perluasan jejaring, bukan jaminan masuknya modal besar ke sektor manufaktur dalam waktu dekat.
Pemerintah diharapkan lebih fokus menciptakan ekosistem industri yang matang, di mana tingkat okupansi kawasan industri menjadi indikator keberhasilan utama. Kepastian hukum dan efisiensi biaya operasional akan selalu menjadi pertimbangan utama investor global sebelum memutuskan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.