Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat lonjakan temuan kasus HIV yang signifikan hingga pertengahan tahun 2026. Dari total 10.873 warga yang mengikuti layanan konseling dan tes sukarela (Voluntary Counselling and Testing/VCT), sebanyak 186 orang terdeteksi positif HIV. Angka ini menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat dibanding periode Maret 2026 yang hanya berkisar pada 90-an kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menegaskan bahwa kenaikan angka ini bukan sekadar statistik yang mencemaskan, melainkan indikasi keberhasilan program deteksi dini. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan status kesehatan mereka secara sukarela kini semakin tumbuh, yang krusial untuk memutus rantai penularan lebih cepat.
Berdasarkan data sebaran epidemiologis, populasi laki-laki mendominasi dengan persentase sekitar 52 hingga 53 persen dari total temuan kasus. Dinkes mengidentifikasi kelompok Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sebagai sektor dengan jumlah temuan tertinggi, yakni mencapai 100 kasus, yang mengindikasikan faktor perilaku seksual masih menjadi risiko utama.
Kendati demikian, transmisi virus ini terpantau telah menyebar ke berbagai lapisan sosial masyarakat. Data menunjukkan penularan juga menyasar kelompok di luar populasi berisiko tinggi tradisional, termasuk sembilan pelanggan pekerja seks, delapan ibu hamil, lima calon pengantin yang menjalani skrining pranikah, serta satu kasus memprihatinkan berupa penularan vertikal dari ibu ke anak.
Guna menanggulangi perkembangan ini, Pemerintah Kota Malang menyiagakan 40 fasilitas kesehatan untuk mengambil langkah proaktif di lapangan. Upaya pencegahan kini difokuskan pada penelusuran kontak erat, di mana pasien yang terdiagnosis didorong untuk mengajak pasangannya melakukan tes, diiringi pendampingan pengobatan antiretroviral (ARV) secara disiplin demi menjaga produktivitas mereka.