PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menunjukkan optimisme tinggi terhadap prospek industri alat kesehatan di Indonesia. Perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan alat laboratorium, farmasi, dan kedokteran ini tengah bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) sebagai upaya strategis guna memperkuat operasional serta meningkatkan skala produksi manufaktur domestik.
Berdasarkan data prospektus, pasar teknologi medis di Indonesia diprediksi mengalami pertumbuhan pesat dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) mencapai 8,68% pada rentang 2025 hingga 2030, dengan estimasi nilai pasar sebesar US$4,02 miliar. Peluang ini dinilai sangat terbuka lebar mengingat saat ini lebih dari 75% kebutuhan alat kesehatan nasional masih bergantung pada produk impor.
Pemerintah Indonesia melalui kebijakan transformasi kesehatan terus mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Posisi EMMI pun semakin kuat berkat jaringan distribusi yang telah menjangkau lebih dari 200 institusi kesehatan, terutama rumah sakit pemerintah, serta memiliki fasilitas manufaktur yang berlokasi di Cikupa dan Solo.
Untuk memperkokoh profitabilitas, EMMI mulai merambah segmen produk habis pakai, seperti produksi benang bedah melalui kemitraan strategis dengan entitas global. Inisiatif ini dirancang untuk menciptakan pendapatan berulang yang lebih stabil dan mengurangi ketergantungan pada proyek jangka pendek.
Dalam aksi korporasi ini, EMMI melepas 522,85 juta saham baru dengan harga Rp470 per lembar, sehingga berhasil mengumpulkan dana segar mencapai Rp245,74 miliar. Alokasi dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran utang, pembiayaan modal kerja, serta belanja modal pembangunan pabrik baru di Cikupa guna memperkuat kapasitas produksi medis nasional di masa depan.