Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) secara aktif mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk melahirkan inovasi konkret berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya ini bertujuan agar riset akademis tidak sekadar menjadi dokumen ilmiah, melainkan solusi nyata yang langsung meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan pentingnya reposisi kampus sebagai episentrum kemajuan peradaban. Dalam pernyataan resminya di Jakarta, ia menggarisbawahi bahwa tridharma perguruan tinggi—khususnya riset dan pengabdian—harus diselaraskan dengan kebutuhan riil masyarakat, sektor industri, serta arah kebijakan pemerintah.
"Kami ingin menggaungkan gerakan Kampus Berdampak. Lingkungan akademik harus menjadi pusat perubahan yang kontras dan membawa manfaat bagi wilayah sekitarnya," ujar Brian. Melalui gerakan ini, civitas akademika diharapkan mampu menyumbangkan keahlian mereka guna menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.
Salah satu wujud nyata dari inisiatif ini tercermin pada kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup. Brian memberikan apresiasi khusus kepada Universitas Diponegoro (Undip) atas keberhasilan mereka mengelola Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dinilai sukses mengintegrasikan sains dan teknologi dalam penanganan limbah secara berkelanjutan.
Ia berharap TPST Undip dapat memperluas kapasitas layanannya untuk membantu wilayah Tembalang serta mengedukasi warga sekitar dalam pemilahan sampah. Menurut Brian, persoalan lingkungan yang kompleks tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi multidisiplin yang melibatkan rekayasa sosial, aspek biologi, dan keilmuan teknik.