Kesenjangan antara hasil riset di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri kerap menjadi hambatan serius dalam inovasi kesehatan di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR) menjalin kemitraan strategis dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui sosialisasi program bertajuk 'Bersinergi dalam Riset Inovatif berDaya saing Global dan Ekspansi pasar' atau BRIDGE.

Dekan Fakultas Farmasi UNAIR, Prof. apt. Dewi Melani Hariyadi, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk memastikan karya inovatif sivitas akademika tidak sekadar menjadi dokumentasi akademik, melainkan bertransformasi menjadi produk nyata yang memiliki nilai ekonomi dan mampu bersaing di pasar internasional.

Di sisi lain, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Mohamad Kashuri, mengakui bahwa standar regulasi sering kali menjadi kendala bagi para peneliti. Melalui platform BRIDGE, BPOM berkomitmen untuk lebih fleksibel dan proaktif sebagai fasilitator, tanpa mengabaikan aspek keamanan, mutu, dan efikasi produk yang beredar di masyarakat.

Sebagai bentuk keseriusan dalam mempercepat proses perizinan di Jawa Timur, BPOM bahkan menerapkan sistem 'One Stop Service' dengan target penerbitan 1.000 Nomor Izin Edar (NIE) dalam waktu singkat. Langkah ini diharapkan mampu memangkas hambatan birokrasi yang selama ini menghambat pelaku usaha dan peneliti dalam memasarkan produk inovasi mereka.

Sinergi antara akademisi dan otoritas pengawas ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi tumbuhnya industri obat tradisional dan kosmetik dalam negeri. Dengan dukungan regulasi yang lebih adaptif, berbagai penemuan dari laboratorium kampus kini memiliki peluang lebih besar untuk diproduksi secara massal dan memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat luas.