Transformasi digital yang kian masif saat ini dinilai menjadi kunci utama dalam meruntuhkan batasan gender di sektor ketenagakerjaan. Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menegaskan bahwa kemajuan teknologi telah mengubah paradigma dunia kerja yang dulunya bertumpu pada kekuatan fisik, kini menjadi ruang yang lebih inklusif bagi laki-laki maupun perempuan.
Heri mendorong seluruh pemangku kepentingan di Jawa Tengah untuk memanfaatkan momentum digitalisasi guna menghapus kesenjangan peran antara gender. Menurutnya, fleksibilitas kerja, sistem otomatisasi, dan platform digital saat ini telah menyediakan akses yang setara, sehingga perempuan memiliki peluang besar untuk berkontribusi secara signifikan di berbagai lini industri.
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat tren positif dalam partisipasi perempuan di Jawa Tengah, di mana Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada 2025 tercatat mencapai 56,63%. Meski demikian, Heri menyoroti adanya tantangan di sektor spesifik, terutama di bidang teknologi di mana keterlibatan perempuan masih terbatas pada angka 27 persen.
Guna mengatasi ketimpangan tersebut, Heri mendesak adanya penguatan literasi digital serta pelatihan keterampilan teknis bagi perempuan, seperti pemrograman, pemasaran digital, hingga manajemen e-commerce. Ia berharap pemerintah daerah, pelaku usaha, dan sektor pendidikan dapat bersinergi menyediakan ekosistem pemberdayaan yang lebih adaptif.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya regulasi yang menjamin keamanan ruang digital bagi perempuan, terutama perlindungan dari ancaman kekerasan berbasis gender daring. Bagi Heri, memberdayakan perempuan melalui teknologi bukan sekadar agenda kesetaraan, melainkan langkah strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara berkelanjutan.