Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong transformasi sektor pertanian domestik melalui hilirisasi teknologi modern yang siap pakai. Langkah ini direalisasikan demi menjamin agar hasil riset tidak sekadar menjadi dokumen akademis, melainkan dapat langsung diaplikasikan oleh para petani dan pelaku industri guna meningkatkan produktivitas lahan.

Melalui Rapat Kerja dan Sarasehan Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan (PRTMP), BRIN menekankan pentingnya transisi menuju sistem pertanian presisi. Metode ini memanfaatkan perangkat mutakhir seperti sensor pintar, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), serta sistem otomatisasi untuk menghasilkan data pertanian yang akurat, sehingga meminimalkan biaya produksi sekaligus mengoptimalkan hasil panen.

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menjelaskan bahwa paradigma riset kini harus berbasis kebutuhan pasar. BRIN menerapkan skema pengembangan bersama (co-development) sejak tahap awal perencanaan riset agar teknologi yang diciptakan benar-benar selaras dengan kendala nyata yang dihadapi para petani di lapangan.

Sebagai wujud nyata kolaborasi tersebut, PRTMP menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sembilan mitra strategis yang meliputi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BUMDes, koperasi, hingga korporasi. Selain itu, BRIN juga meresmikan lisensi komersial untuk mesin pemanjat kelapa mekanis, sebuah inovasi karya peneliti Astu Unadi yang dirancang guna meningkatkan aspek keselamatan kerja sekaligus efisiensi panen kelapa.

Di sisi lain, komitmen jangka panjang ini sejalan dengan peta jalan Transformasi BRIN 5.0 periode 2026–2030 yang berfokus pada penguatan ekosistem riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sinergi ini turut didukung oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk standardisasi instrumen presisi, demi mewujudkan target swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.