Keindahan alam di lereng Gunung Salak tidak hanya menawarkan potensi wisata alam yang asri, tetapi juga menjadi saksi ketekunan warga Kampung Sinarwangi, Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Di tengah rutinitas sektor pertanian yang mendominasi kawasan tersebut, sebagian masyarakat setempat terampil mengolah panganan tradisional sebagai sarana untuk menyokong perekonomian keluarga.

Salah satu perajin yang konsisten bertahan hingga kini adalah Arni (55). Ia memproduksi ranggining dan rangginang, dua camilan tradisional khas Sunda yang kerap dianggap sama oleh masyarakat awam, padahal memiliki karakteristik berbeda. Arni menjelaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada bahan bakunya, di mana rangginang menggunakan beras ketan, sedangkan ranggining dibuat dari olahan tepung.

Bagi Arni, aktivitas pembuatan camilan gurih ini bukan sekadar rutinitas harian, melainkan roda penggerak ekonomi rumah tangga. Ia melayani pesanan untuk berbagai keperluan acara seperti hajatan, syukuran, maupun pertemuan keluarga. Produk olahannya dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni seribu rupiah per biji, dengan volume pesanan rata-rata berkisar antara 200 hingga 300 buah per sekali order.

Memasuki momen-momen khusus seperti menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan terhadap ranggining dan rangginang mengalami lonjakan yang cukup signifikan hingga mencapai ribuan buah. Bagi masyarakat Kampung Sinarwangi yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, pendapatan dari sektor kuliner rumahan ini menjadi penolong penting untuk menambah pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari.

Eksistensi usaha mikro yang dijalankan oleh Arni membuktikan bahwa kearifan lokal berupa kuliner tradisional mampu menjadi pilar ketahanan ekonomi keluarga di wilayah pelosok. Upaya konsisten ini tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjaga agar warisan kuliner khas daerah tetap eksis dan dikenal oleh generasi mendatang.