Dampak ekonomi dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) kini mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat di sekitar kawasan industri Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Setelah ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, sektor usaha pendukung, terutama bisnis rumah indekos, mengalami penurunan okupansi yang signifikan.

Data dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Morowali Utara mencatat bahwa sebanyak 1.800 tenaga kerja telah dilepas oleh perusahaan nikel tersebut dalam kurun waktu setahun terakhir. Fenomena ini menciptakan efek domino bagi warga lokal yang mengandalkan pendapatan dari menyewakan kamar kepada para karyawan pendatang.

Aris Okking, seorang pemilik indekos di Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, mengungkapkan kesulitan finansial yang ia hadapi. Sebagian besar kamarnya kini tidak berpenghuni, sementara ia masih terikat kewajiban pembayaran cicilan kredit bank yang digunakan untuk modal pembangunan properti usahanya. Kondisi serupa juga dialami oleh Feronica, pelaku usaha kos lainnya, yang mengaku kehilangan banyak penyewa pasca-gelombang PHK tersebut.

Para pelaku usaha lokal kini hanya bisa berharap adanya stabilitas operasional di PT GNI agar roda perekonomian di wilayah tersebut dapat kembali berputar. Mereka menaruh asa agar situasi ketenagakerjaan segera membaik, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat pulih dari keterpurukan yang terjadi saat ini.