Warga Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, tengah menghadapi lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di tingkat pengecer. Di Kecamatan Tanah Grogot, harga komoditas ini dilaporkan menembus angka Rp16 ribu per liter, sementara untuk jenis Pertamax dibanderol mencapai Rp19 ribu per liter. Kondisi ini memberikan tekanan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, khususnya pekerja sektor transportasi daring.

Fani, seorang pengemudi ojek online setempat, mengungkapkan bahwa ia terpaksa membeli BBM dengan harga tinggi karena sulitnya mendapatkan akses di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Antrean yang mengular di SPBU, menurutnya, dipicu oleh ulah para pengetap atau pihak yang menyalahgunakan subsidi untuk keuntungan pribadi. "Mau beli di SPBU juga susah, antreannya panjang betul gara-gara pengetap," ujar Fani.

Berdasarkan data di lapangan, Kabupaten Paser memiliki enam SPBU yang tersebar di beberapa titik strategis, termasuk Long Kali, Kuaro, Batu Sopang, Pasir Belengkong, serta dua lokasi di Kecamatan Tanah Grogot. Meskipun PT Pertamina telah menetapkan harga resmi Pertalite sebesar Rp10 ribu per liter, distribusi yang terhambat membuat harga di pasar eceran tak terkendali, bahkan di wilayah yang jaraknya berdekatan dengan SPBU.

Ketidakseimbangan harga ini berdampak langsung pada pengeluaran harian warga yang tetap, sementara pemasukan mereka tidak mengalami peningkatan. Fenomena ini memicu kekhawatiran masyarakat mengenai kondisi serupa yang mungkin terjadi di wilayah pelosok yang lebih sulit dijangkau.

Menanggapi situasi ini, masyarakat mendesak pihak berwenang untuk segera melakukan penertiban terhadap para pengetap BBM. Harapannya, dengan pengawasan yang lebih ketat di SPBU, distribusi bahan bakar dapat kembali normal dan harga di tingkat pengecer dapat ditekan ke angka yang lebih wajar, yakni sekitar Rp12 ribu per liter.