Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, IBM, kini tengah menghadapi tantangan berat akibat pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Pergeseran fokus belanja korporasi dari sektor perangkat lunak (software) ke pembangunan infrastruktur pusat data (data center) menjadi pemicu utama koreksi kinerja keuangan perusahaan legendaris tersebut.
CEO IBM, Arvind Krishna, mengungkapkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir menjelang akhir paruh pertama tahun ini, terjadi lonjakan belanja modal dari para klien untuk mengamankan perangkat keras seperti server, penyimpanan data, dan memori. Langkah antisipatif korporasi ini dilakukan guna menghindari kelangkaan pasokan dan potensi kenaikan harga, sebuah perubahan dinamika pasar yang gagal diantisipasi secara tepat oleh manajemen IBM.
Kelemahan operasional IBM saat ini teridentifikasi pada divisi komputer mainframe, unit bisnis yang selama ini menyokong penjualan komputer berkinerja tinggi serta sistem operasi terkait. Dampaknya, IBM memproyeksikan pertumbuhan pendapatan kuartal kedua hanya sebesar 1 persen menjadi US$17,2 miliar (sekitar Rp310,8 triliun), berada di bawah estimasi konsensus analis yang menargetkan angka US$17,86 miliar.
Kondisi ini turut memicu kekhawatiran di kalangan investor pasar modal. Kepala Analis Pasar IG Group, Chris Beauchamp, menilai situasi ini sebagai momentum krusial bagi industri perangkat lunak secara keseluruhan. Menurutnya, jika peralihan anggaran dari software ke infrastruktur fisik dan keamanan siber ini berlangsung dalam jangka panjang, kredibilitas saham-saham sektor perangkat lunak akan dipertanyakan secara serius.
Akibat proyeksi yang meleset ini, kapitalisasi pasar IBM terancam merosot hingga US$70 miliar dari valuasi totalnya yang mencapai US$272,78 miliar. Tren koreksi ini tidak hanya melanda IBM, tetapi juga menyeret saham raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Salesforce, ServiceNow, dan Intuit yang tercatat melemah di kisaran 2 hingga 5 persen.