Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan video yang menarasikan potensi bencana besar di Jepang dan Amerika Serikat. Unggahan tersebut menyebutkan bahwa gunung api bawah laut dengan luas ratusan kilometer di kedua negara tersebut akan meletus secara bersamaan, yang diprediksi dapat memusnahkan wilayah terkait. Narasi yang menyebar melalui platform TikTok ini telah menuai perhatian luas dan memicu kecemasan di kalangan warganet.

Menanggapi isu tersebut, Ahli Vulkanologi dari Universitas Brawijaya, Sukir Maryanto, menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki landasan ilmiah. Menurutnya, probabilitas sebuah letusan gunung api mampu memicu aktivitas vulkanik di lokasi lain yang terpaut jarak ribuan kilometer sangatlah kecil. Interaksi vulkanik antargunung biasanya hanya terjadi jika berada dalam satu sistem tektonik yang sama atau berjarak sangat dekat, yakni dalam radius kurang dari 10 kilometer.

Senada dengan penjelasan tersebut, United States Geological Survey (USGS) memastikan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara letusan di satu benua dengan aktivitas gunung api di benua lainnya. Lembaga tersebut terus memantau aktivitas vulkanik di Amerika Serikat, seperti Gunung Great Sitkin dan Kilauea, namun tidak ada catatan peringatan resmi mengenai potensi letusan sinkron yang bersifat destruktif seperti yang dinarasikan dalam video tersebut.

Investigasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa visual yang digunakan dalam konten hoaks tersebut merupakan hasil manipulasi informasi. Foto yang ditampilkan dalam video bukanlah gunung api di Jepang maupun AS, melainkan dokumentasi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada tahun 2018. Foto ikonik tersebut diambil oleh fotografer Reuters, Muhammad Adimaja, saat peristiwa erupsi berlangsung.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar di media sosial. Terkait aktivitas vulkanik di Jepang, badan meteorologi setempat (JMA) terus melakukan pemantauan ketat, namun tidak ada laporan yang mengindikasikan adanya ancaman eksistensial bagi negara tersebut. Selalu rujuk informasi dari kanal berita kredibel atau lembaga resmi pemerintah sebelum menyebarkan konten yang bersifat menakut-nakuti.