Kondisi keuangan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), salah satu entitas bisnis yang terafiliasi dengan putra bungsu mantan Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, kini tengah menjadi sorotan publik. Perusahaan tersebut dilaporkan menanggung beban utang jumbo yang mencapai angka lebih dari Rp2 triliun, di luar tanggungan bunga yang harus dibayarkan.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, utang PMMP tersebar di sejumlah institusi perbankan besar. Tercatat utang kepada Bank Permata mencapai Rp929,6 miliar, BCA sebesar Rp705 miliar, serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) sebesar Rp537,4 miliar. Selain itu, terdapat pula kewajiban kepada Bank SMBC Indonesia, Bank Maspion, dan Bank Resona Perdania. Kondisi ini memaksa manajemen perusahaan untuk segera menempuh langkah restrukturisasi utang demi menjaga keberlangsungan usaha.

Dampak dari krisis finansial ini sangat terasa pada operasional perusahaan. Saat ini, hanya satu pabrik PMMP di Situbondo, Jawa Timur, yang masih beroperasi. Situasi sulit tersebut juga berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga pengunduran diri sejumlah jajaran direksi, termasuk Direktur Pemasaran, Patrick Djuanda.

Fenomena ini menambah daftar panjang potret bisnis Kaesang yang terpuruk setelah era kepemimpinan ayahnya berakhir. Sejumlah unit usaha yang sempat ekspansif di masa lalu, seperti Ternakkopi, Goola, Siapmas, Madhang, hingga jenama fesyen Sang Javas, kini telah resmi menghentikan operasionalnya.

Pengamat menilai bahwa keberlanjutan bisnis tersebut sempat terkerek oleh momentum politik di masa lampau. Namun, tanpa daya tahan yang kuat, model bisnis yang dijalankan gagal beradaptasi dengan dinamika pasar setelah transisi kekuasaan, menyebabkan banyak di antaranya harus gulung tikar akibat ketidakmampuan mempertahankan performa jangka panjang.