Kawasan wisata religi Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, belakangan ini kembali menjadi sorotan publik di media sosial menyusul mencuatnya berbagai narasi mengenai praktik pesugihan. Menanggapi stigma yang terus berkembang tersebut, pihak pengelola sekaligus juru kunci setempat akhirnya angkat bicara guna meluruskan persepsi masyarakat.

Agus, salah satu juru kunci Gunung Kawi, menegaskan bahwa wilayah spiritual tersebut sejatinya didirikan sebagai sarana berkumpul untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menyayangkan opini publik yang kerap menyederhanakan aktivitas spiritual para pengunjung sebagai ritual pencarian kekayaan instan secara mistis.

Menurut penjelasan Agus, permohonan agar diberi kelancaran rezeki dan kesuksesan usaha adalah hal yang wajar dalam ajaran agama mana pun. Namun, karena citra buruk yang telanjur melekat, setiap kunjungan dari berbagai kalangan—mulai dari masyarakat umum, pelaku usaha, pejabat negara, hingga figur publik—selalu diasosiasikan secara keliru dengan praktik pesugihan.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa keberhasilan yang diraih para peziarah pascakunjungan merupakan hasil dari kesungguhan doa dan kerja keras mereka, bukan akibat sekutu dengan kekuatan gaib. Gunung Kawi dipilih oleh para peziarah semata-mata karena suasananya yang tenang dan damai, sehingga dinilai sangat kondusif untuk mendukung kekhusyukan dalam beribadah.