Gelombang investasi pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia diprediksi akan menjadi motor penggerak baru dalam penyerapan tenaga kerja nasional. Kendati demikian, prospek cerah ini membentur dinding realitas berupa kesenjangan kompetensi yang cukup lebar antara kebutuhan industri dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) lokal.

Erick Hadi, Head of Talent Development & Industry Certification Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), mengungkapkan bahwa satu fasilitas data center skala besar mampu menyerap 900 hingga 2.000 pekerja selama fase konstruksi. Sebagai ilustrasi, proyek dengan kapasitas 500 megawatt yang tengah marak di kawasan Bekasi dan Cikarang rata-rata membutuhkan tenaga kerja di rentang 1.600 hingga 2.000 orang.

Permintaan akan tenaga kerja ini tidak berhenti saat proyek rampung. Erick menekankan bahwa fase operasional, pemeliharaan, hingga pengembangan ekosistem pendukung akan terus membutuhkan tenaga profesional dengan spesialisasi khusus. Sayangnya, hingga saat ini belum tersedia program pendidikan formal atau pelatihan khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik industri data center.

Ke depannya, industri ini membutuhkan sinergi lintas sektor guna menutup celah talenta. Kebutuhan SDM yang terampil mencakup berbagai lini, mulai dari operator pusat data, vendor teknis, kontraktor spesialis, hingga perusahaan penyedia layanan pendukung yang harus memenuhi standar kompetensi ketat demi menjaga keberlangsungan infrastruktur digital di Indonesia.