Kawasan pegunungan Trawas, Mojokerto, menjadi saksi keberanian tujuh penyandang tunanetra yang tergabung dalam program Adventurous Journey (AJ) pada 4-7 Juli 2026. Didampingi oleh relawan dari Yayasan Urunan Kebaikan, para peserta membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk menjelajahi keindahan alam melalui kegiatan susur sungai dan pendakian gunung.
Program yang diikuti oleh 25 anak binaan yayasan, termasuk peserta yatim dan duafa, ini bukan sekadar agenda wisata alam biasa. Ketua Yayasan Urunan Kebaikan, Gusti Mohammad Hamdan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang khusus untuk membangun karakter, empati, serta jiwa kepemimpinan. Selain itu, partisipasi dalam AJ menjadi syarat penting untuk mendapatkan penghargaan internasional The Duke of Edinburgh International Award.
Selama empat hari, setiap peserta tunanetra mendapatkan pendampingan intensif dari para relawan. Bahkan, saat memasuki medan pendakian yang lebih berat, rasio pendamping ditingkatkan menjadi dua orang per peserta untuk menjamin keselamatan. Sebelumnya, para peserta telah menjalani persiapan fisik selama satu bulan, termasuk latihan berjalan di medan miring dan adaptasi terhadap kondisi alam.
Gusti menuturkan bahwa tantangan terbesar bagi para penyandang tunanetra adalah mengelola rasa takut akan risiko jatuh atau terpeleset. Untuk mengatasi hal tersebut, relawan berperan aktif mendeskripsikan kondisi jalur, sekaligus mengajak peserta mengenali lingkungan sekitar melalui indera pendengaran, penciuman, dan perabaan pada tekstur alam.
Salah satu peserta, Febriand Valentino, mahasiswa Universitas Brawijaya yang juga dikenal melalui konten 'Blindventure', berharap pengalaman ini dapat memotivasi sesama penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa aksi mereka merupakan upaya nyata untuk melampaui batas diri dan membuktikan bahwa kemauan kuat mampu menaklukkan tantangan di depan mata.