Di balik nama yang terkesan horor, 'Ojek Setan' di Basecamp Pendakian Gunung Sumbing via Garung, Wonosobo, justru menyuguhkan pengalaman unik bagi para pendaki dan wisatawan. Istilah tersebut bukanlah representasi dari kisah mistis, melainkan sebutan bagi moda transportasi lokal yang memiliki posisi duduk unik, di mana penumpang harus duduk di antara setang dan pengemudi.

Kepala Desa Butuh, Dzikroni, menjelaskan bahwa posisi duduk yang tidak lazim inilah yang menjadi daya tarik utama sekaligus alasan di balik penamaan tersebut. Keberadaan ojek yang mayoritas menggunakan armada motor trail ini menjadi solusi vital bagi pendaki maupun warga lokal untuk menjangkau medan lereng gunung yang curam, berbatu, dan sulit dilalui kendaraan konvensional.

Untuk menikmati layanan ojek menuju Pos 1, penumpang dikenakan tarif sebesar Rp30.000. Guna menjaga aspek keselamatan dan kenyamanan, pengelola telah menetapkan regulasi ketat. Aturan tersebut mencakup pembagian sesi operasional, kebijakan biaya tambahan bagi penumpang dengan berat badan tertentu, hingga kewajiban pengemudi untuk berkendara secara santun di area pemukiman warga.

Layanan ini tersedia dalam tiga waktu operasional, yakni sesi pagi (07.00-11.00 WIB), sesi siang hingga sore (13.00-18.00 WIB), dan sesi khusus 'tektok' pada dini hari bagi pendaki yang mengejar matahari terbit. Sistem manajemen yang tertata rapi ini menunjukkan profesionalisme komunitas ojek lokal dalam mengelola potensi wisata di lereng Gunung Sumbing.

Keberadaan 'Ojek Setan' kini telah bertransformasi menjadi ikon wisata yang tidak hanya memudahkan mobilitas di jalur pendakian, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Desa Butuh. Kreativitas warga dalam mengelola potensi alam ini berhasil mengubah tantangan medan ekstrem menjadi peluang bisnis yang menarik bagi wisatawan dari berbagai daerah.